Aku keluar Membawa plastik-plastik ejaan Senja itu Ketika bintang agung mulai kembali ke relnya Ketika semilir seruan nyaris ke waktunya Ketika aku berboyong-boyong memungut bingkisan Sesuatu terbisik di telingaku Begitu parau, lirih Namun lembut, penuh semangat Menyanyikan sebuah dendang Yang tidak begitu kenyang Aku tahu suara itu Suara yang telapak tangannya terurai duka menadahkan tanda meminta Tak seberapa Ia berjalan dari jok ke jok dengan alun yang sama Aku menatap gundukan parsel itu Beralih ke perut mereka yang kempes Oh, Tuhan Bisakah mereka makan ? Ketika aku... ?
Sebenarnya... ku tak bisa berkata-kata Ku tak bisa merangkai ucapan Huruf demi huruf Selalu membuat kebingungan Dalam hari-hari Senantiasa bagaikan laut Setiap aku makin masuk ke dalamnya Ku semakin tenggelam dalam birunya air Yach, ketika ku berpikir Ku baru tersadar Sebenarnya semua itu fatamorgana Yang ada dalam cerminan diriku
Entah berapa ember aku menangis Aku Aku melihat paras itu Aku tidak tahu mereka tertawa apa Menertawakan apa? Delapan bocah mengerubuti sepincuk nasi Tertawa karena apa? Baju kumal yang selalu dipakai bergiliran Uang recehan yang mereka hartikan harta Tutup botol yang mereka kira nada Apa? Apa yang mereka tertawakan? Bodoh! Mengapa mereka bodoh? Apa yang mereka tertawakan? Kelaparan? Kemiskinan? Penderitaan? APA!!? Katakan! Apakah mereka? Menertawakan ember-ember tangisku! Oh, Tuhan, Mereka bahagia!
Aku menatap sendu wajah pasi itu Aku bisa merasakan dinginnya tubuh Atau kosongnya ruh Aku bisa melihat coret moret ungu Yang tertoreh di wajahnya Aku bisa melihat ia menangis Atau ia duduk pasrah Aku bisa melihat lily putih di kedua kelopaknya Atau kamboja di tengah gundukan aspalnya Aku... Aku benar-benar bisa melihat Ia tersenyum kepadaku!!
Airku telah habis dipakai menjadi sebuah goresan Dan bakku telah banyak endapan Ini sudah saatnya Bakku harus dikuras Dan akhirnya aku akan puasa puisi